Pemeriksaan Sitopatologi dan Histopatologi
TUGAS SITOHISTOTEKNOLOGI
NAMA : ROSYINTA MUIM
NIM : 18 3145 353 103
KELAS : 2018 C
PEMERIKSAAN SITOPATOLOGI DAN HISTOPATOLOGI
Artikel
kali ini akan membahas tentang pemeriksaan sitopatologi dan histopatologi yang termasuk dalam sitohistoteknologi, dimana hal ini
sangat penting dan menjadi kunci dalam mendiagnosa sebagian besar penyakit. Hal
pertama yang akan dibahas yaitu pengertian dari sitohistoteknologi itu sendiri.
Apakah sitohistoteknologi itu???
Sitohistoteknologi
merupakan ilmu yang mempelajari tentang preparasi sel-sel dan jaringan tubuh
sampai menjadi sediaan mikroskopis yang digunakan untuk mendiagnosa adanya
kelainan-kelainan dalam tubuh dan merupakan kunci dalam diagnosa sebagian besar
penyakit.
Tahukah kamu apa itu laboratorium patologi anatomi??
Laboratorium patologi anatomik merupakan laboratorium
yang melaksanakan pembuatan preparat dengan teknik potong beku. Pelayanan
laboratorium patologi anatomik berperan sebagai baku emas dalam penegakkan
diagnosis yang berbasis perubahan morfologi sel dan jaringan sampai pemeriksaan
imunologik dan molekuler khusus yanng bersumber dari sel maupun jaringan. Dalam
laboratorium patologi anatomik, dikenal 2 komponen besar dalam pelayanan
laboratorium, yaitu laboratorium histopatologi dan laboratorium sitopatologi.
1. Laboratorium Histopatologi
Laboratorium histopatologi merupakan laboratorium
yang menangani spesimen berupa jaringan. Spesimen dapat diambil dari seluruh
organ baik berukuran kecil maupun berukuran besar.
Untuk melakukan pemeriksaan, terlebih dahulu dibuat
sediaan atau preparat histologis yang disebut mikroteknik. Pembuatan sediaan
dari suatu jaringan dimulai dengan operasi, biopsi atau autopsi. Disini akan
diambil contoh cara kerja menggunakan organ uterus. Pertama-tama yaitu uterus
diukur panjang, lebar dan tingginya. Kemudian dibelah uterus menjadi 2 bagian
dengan dibatasi pinset. Setelah itu dipotong uterus sebesar 1 cm untuk dilihat
bagian-bagian yang dicurigai adanya tumor/mioma. Kemudian dipotong uterus yang
dicurigai sebesar 0,5 cm. Setelah itu jaringan uterus yang dipotong 0,5 cm
dimasukkan ke dalam kaset.
Kemudian dilanjutkan dengan pemotongan di mikrotom,
dimana pertama-tama objek glass dilabeli sesuai label yang ada di kaset.
Setelah itu potongan jaringan yang lebih diparafinisasi dipotong di mikrotom.
Kemudian potongan jaringan dimasukkan ke waterbath lalu diambil dengan objek
glass. Setelah itu dilekatkan jaringan pada objek glass di hot plate hingga
sisa paraffin meleleh dan yang tersisa hanya potongan jaringannya saja.
Kemudian dilakukan pengecatan preparat menggunakan
pengecatan Hematoxillin Eosin, dimana
pertama-tama digenangi dengan Xylol I
selama 10 menit. Setelah itu digenangi dengan Xylol II selama 10 menit. Kemudian digenangi dengan Xylol III selama 10 menit. Setelah itu
dilap dan bersihkan sekitar jaringan. Kemudian digenangi dengan Alkohol absolut
selama 2 menit. Setelah itu digenangi dengan Alkohol 95% selama 2 menit.
Kemudian digenangi dengan Alkohol 80% selama 2 menit. Setelah itu digenangi
dengan Alkohol 70% selama 2 menit. Kemudian dicuci dengan air mengalir selama 3
menit. Setelah itu ditiriskan sediaan. Kemudian digenangi dengan Mayer hematoxilin selama 15 menit lalu
cuci dengan air mengalir selama 7 menit. Setelah itu dilakukan proses bluing
selama 5 menit lalu tiriskan. Kemudian digenangi dengan eosin sebanyak 1 celup
lalu bilas dengan air sebanyak 3 celup. Setelah itu digenangi sediaan dengan
Alkohol 70% sebanyak 3 celup. Kemudian digenangi dengan Alkohol 80% sebanyak 3
celup. Setelah itu digenangi dengan Alkohol 95% sebanyak 3 celup. Kemudian
digenangi dengan Alkohol absolut sebanyak 3 celup. Setelah itu dilap dan
dikeringkan. Kemudian digenangi dengan Xylol
I selama 5 menit. Setelah itu digenangi dengan Xylol II selama 5 menit. Kemudian digenangi dengan Xylol III selama 5 menit. Setelah itu
dilakukan mounting (entelan).
2. Laboratorium Sitopatologi
Laboratorium sitopatologi merupakan laboratorium
yang menangani spesimen berupa cairan atau bentukan lain yang mengandung
sel-sel untuk dilakukan diagnosis. Spesimen sitologik didapat dari sel yang
terlepas (exfoliatif) atau sel yang
terlepas dari jaringan. Jenis spesimen yang paling umum adalah spesimen cervical Pap Smear, karena Pap Smear merupakan salah satu program
pemerintah dalam menurunkan angka kanker serviks. Spesimen juga dapat berasal
dari urin, dahak, cairan serebrospinal, cairan berasal dari bilasan dan lain
sebagainya yang mengandung materi sel.
Histologi
Histologi merupakan
cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang struktur jaringan secara detail
menggunakan mikroskop pada sediaan jaringan dengan irisan tipis. Irisan
tersebut nantinya akan memperlihatkan bentuk, ukuran dan lapisan yang beragam
yang terdiri dari struktur seluler, florosa dan tubuler.
Histologi diperlukan
dalam mempelajari struktur jaringan normal suatu organ atau alat tubuh lain
baik struktur anatomi maupun fisiologi. Hal yang sangat penting dalma mengenali
suatu kondisi patologi sebagai akibat suatu penyakit dan perubahan-perubahan
seluler juga membantu mendiagnosis penyakit karena salah satu pertimbangan
dalam penegakan diagnosis melalui hasil pengamatan terhadap jaringan yang
diduga terganggu dengan diambil sampel organ.
Proses pembuatan sajian
histologi dimulai dari pengambilan organ setelah hewan dilakukan eutansi
kemudian organ dimasukkan dalam larutan garam fisiologis dan selanjutnya organ
dimasukan dalam larutan fiksatif. Proses pembuatan preparat histologi melalui
beberapa tahapan yaitu persiapan seperti: nekropsi, fiksasi, trimming dilanjutkan tahap pemrosesan
jaringan seperti dehidrasi, penjernihan, infiltrasi parafin, pengeblokan,
pemotongan, pewarnaan, perekatan dan pelabelan.
- Fiksasi, merupakan proses pengawetan protoplasma
sehingga struktur jaringan tetap stabil dan tidak mengalami perubahan seperti
autolisis yang disebabkan enzim proteolitik dan pembusukan yang disebabkan oleh
kuman pembusuk dari luar tubuh. fiksasi juga berfungsi memberikan konsistensi
keras sehingga jaringan dapat diiris tipis serta pengaruh terhadap pewarnaan
dan diferendiasi optik. Larutan difiksasi yang disebut fiksatif memiliki
kemampuan mengubah indeks bias bagian-bagian sel sehingga dapat dilihat di
mikroskop. Ada beberapa macam larutan fiksasi, yaitu: larutan formalin 10%,
larutan Posphat Buffer Saline-formalin
(PBS-formalin) dan larutan bouin.
- Pemotongan (trimming),
merupakan pemotongan sampel organ menjadi ukuran yang lebih kecil sehingga
memudahkan tahap pembuatan preparat selanjutnya. Jaringan yang tealh difiksasi
selama 24 jam ditiriskan pada saringan kemudian dipotong menggunakan pisau scalpel dengan ketebalan 1x1 cm disusun
ke dalam tissue cassete dan diberi
label.
- Dehidrasi, merupakan pembenaran tahap jaringan
kedalam beberapa larutan etanol dengan
konsentrasi bertingkat. Tujuan dari alkohol bertingkat adalah tidak terjadi
perubahan yang tiba-tiba pada sel jaringan. Dehidrasi bertujuan agar mengeluarkan
seluruh cairan yang terdapat dalam jaringan yang telah difiksasi sehingga dapat
diisi dengan parafin atau zat lain untuk membuat blok preparat. Setiap sel pada
jaringan hidup mengandung 85% air sehingga parafin tidak bisa masuk kedalam sel
karena terhalang oleh air. Proses dehidrasi dilakukan dengan merendam jaringan
dalam larutan alkohol bertingkat dimulai dari etanol 70%, 80%, 90%, 95%
masing-masing selama 1 jam dan etanol absolut I, II, III masing-masing 1 jam.
- Penjernihan (clearing),
merupakan tahapan membuat jaringan menjadi jernih dan transparan menggunakan
pelarut organik seperti xilene atau toluene. Tahap ini bertujuan untuk
mengeluarkan alkohol dari jaringan dan digantikan dengan parafin. Proses
penjernihan dilakukan dengan mencelupkan jaringan dalam larutan xylene I, II dan III masing-masing
selama 40 menit.
- Infiltrasi parafin, yaitu proses perendaman jaringan
dalam parafin yang dicairkan pada suhu 58-60 oC selama 30 menit
sampai 6 jam dalam inkubator bertujuan mengeluarkan cairan pembening (clearing agent) dari jaringan dan
diganti dengan parafin selain itu juga membuat jaringan tahan terhadap
pemotongan. Parafin dipilih sebagai media karena dapat memberikan konsistensi
keras, irisan yang didaot lebih tipis daripada metode beku atau seloidin yaitu
mencapai rata-rata 6 mikron, irisan seri dan pemrosesan lebih cepat dan mudah.
Proses perendaman dilakukan dengan merendam jaringan dalam parafin I, II dan
III masing-masing selama 30-60 menit dalam inkubator.
- Pengeblokan (blocking),
merupakan proses pembuatan blok preparat agar dapat dipotong dengan mikrotom
menggunakan parafin. Pengeblokan bertujuan mengganti parafin cair disertai
dengan pengerasan jaringan.
- Pemotongan (Sectioning),
merupakan proses pemotongan blok preparat dengan menggunakan mikrotom. Tujuan
dari pemotongan blok adalah untuk mendapatkan potongan jaringan yang tipis
dengan ketebalan 3-8 mikron. Mikrotom adalah alat yang dapat memotong tipis dan
sesuai dengan ukuran ketebalan yang diinginkan. Terdapat berbagai jenis mikrotom,
yaitu: mikrotom geser (sliding microtome),
mikrotom putar (rotary microtome) dan
mikrotom beku (freezing microtome).
- Evaluasi preparat setelah tahap pemotongan dilakukan
untuk melihat preparat jaringan baik atau tidak sebelum dilakukan proses selanjutnya.
Tahap ini bertujuan untuk mengurangi kerugian akibat kerusakan jaringan selama
pemrosesan jaringan.
- Pewarnaan (Staining),
adalah teknik memberikan warna pada komponen seluler dengan tujuan membedakan
antar sel pada jaringan. Teknik pewarnaan ini membantu dlaam menghasilkan
kontras dimana setiap warna memiliki afinitasnya masing-masing. Jenis-jenis zat
warna yang dapat digunakan dalam pewarnaan antara lain Alcian Blue (AB), pewarnaan van
Gieson, Pewarna ‘azan’ azocarmine-anilin
blue’, pewarna hematoksilin, pewarna eosin, Hematoksilin dan eosin.
- Perekatan (Mounting)
berfungsi untuk mengawetkan jaringan yang telah diwarnai menggunakan entelan
sehingga jaringan akan awet lebih dari 5 tahun. Proses perekatan ini dilakukan
dengan objek glass berisi pita preparat ditetesi canada balsum kemudian ditutup
dengan cover glass.
Untuk melakukan
pemeriksaan, terlebih dahulu dibuat sediaan atau preparat histologis yang
disebut mikroteknik. Pembuatan sediaan dari suatu jaringan dimulai dengan
operasi, biopsi atau autopsi. Disini akan diambil contoh cara kerja menggunakan
organ uterus. Pertama-tama yaitu uterus diukur panjang, lebar dan tingginya.
Kemudian dibelah uterus menjadi 2 bagian dengan dibatasi pinset. Setelah itu
dipotong uterus sebesar 1 cm untuk dilihat bagian-bagian yang dicurigai adanya
tumor/mioma. Kemudian dipotong uterus yang dicurigai sebesar 0,5 cm. Setelah
itu jaringan uterus yang dipotong 0,5 cm dimasukkan ke dalam kaset.
Kemudian dilanjutkan
dengan pemotongan di mikrotom, dimana pertama-tama objek glass dilabeli sesuai
label yang ada di kaset. Setelah itu potongan jaringan yang lebih
diparafinisasi dipotong di mikrotom. Kemudian potongan jaringan dimasukkan ke
waterbath lalu diambil dengan objek glass. Setelah itu dilekatkan jaringan pada
objek glass di hot plate hingga sisa paraffin meleleh dan yang tersisa hanya
potongan jaringannya saja.
Kemudian dilakukan
pengecatan preparat menggunakan pengecatan Hematoxillin
Eosin, dimana pertama-tama digenangi dengan Xylol I selama 10 menit. Setelah itu digenangi dengan Xylol II selama 10 menit. Kemudian
digenangi dengan Xylol III selama 10
menit. Setelah itu dilap dan bersihkan sekitar jaringan. Kemudian digenangi
dengan Alkohol absolut selama 2 menit. Setelah itu digenangi dengan Alkohol 95%
selama 2 menit. Kemudian digenangi dengan Alkohol 80% selama 2 menit. Setelah
itu digenangi dengan Alkohol 70% selama 2 menit. Kemudian dicuci dengan air
mengalir selama 3 menit. Setelah itu ditiriskan sediaan. Kemudian digenangi
dengan Mayer hematoxilin selama 15
menit lalu cuci dengan air mengalir selama 7 menit. Setelah itu dilakukan
proses bluing selama 5 menit lalu tiriskan. Kemudian digenangi dengan eosin
sebanyak 1 celup lalu bilas dengan air sebanyak 3 celup. Setelah itu digenangi
sediaan dengan Alkohol 70% sebanyak 3 celup. Kemudian digenangi dengan Alkohol
80% sebanyak 3 celup. Setelah itu digenangi dengan Alkohol 95% sebanyak 3
celup. Kemudian digenangi dengan Alkohol absolut sebanyak 3 celup. Setelah itu
dilap dan dikeringkan. Kemudian digenangi dengan Xylol I selama 5 menit. Setelah itu digenangi dengan Xylol II selama 5 menit. Kemudian
digenangi dengan Xylol III selama 5
menit. Setelah itu dilakukan mounting (entelan).
Sitologi
Sitologi merupakan ilmu
pengetahuan yang mempelajari sel yang berasal dari tubuh manusia baik yang
terlepas sendiri (exfoliated) dari
permukaan epitel atau yang diambil dari berbagai tempat dengan cara tertentu.
Bahan-bahan yang dapat diperiksa yaitu: urine, dahak, cairan lambung, cairan
pleura, ascites, cairan sendi, cairan
serebrospinal, mukosa alat kelamin wanita, aspirasi jaringan tumor.
Pemeriksaan sitologi
dibagi dalam 2 bagian yaitu:
- Pemeriksaan sitologi exfoliatif misalnya PAP Smear
adalah pemeriksaan sitologi dari apusan cervix
uteri.
- Sitologi aspiratif atau FNAB (Fine needle aspirasi biopsi) adalah tindakan medik untuk mengambil
sel dari suatu kelainan organ dengan needle
ukuran 22-25 Gauge.
Pemeriksaan yang sering
dilakukan pada laboratorium sitopatologi yaitu Pemeriksaan FNAB, . disini akan
dibahas salah satu dari pemeriksaan ini yaitu pemeriksaan FNAB. Cara kerjanya
yaitu: pertama-tama diambil cairan kelenjar gondok pada pasien. Setelah itu
dibuat hapusan pada objek glass. Kemudian dilakukan pengecatan pada hapusan
yang telah dibuat. Setelah itu dikeringkan hapusan yang telah dicat dengan hair
dryer. Kemudian dilanjutkan dengan proses mounting. Setelah itu diamati dibawah
mikroskop.
Pemeriksaan
sitopatologi terbagi dalam 3 pemeriksaan, yaitu :
a. Pap
Smear
Pap smear adalah
pemeriksaan sitology dari serviks dan
porsio untuk melihat adanya perubahan atau keganasan pada epitel serviks atau porsio. Untuk mengetahui adanya tanda-tanda
awal keganasan serviks (prakanker)
yang ditandai dengan adanya perubahan pada lapisan eptel serviks (dysplasia) (Rasjidi, 2008).
Tes papanikolu atau
Pap Smear adalah metode skrining ginekologi. Dilakukan pertama
kali oleh Georgis Papanikolauo untuk
menemukan proses-proses premaligmant atau
prakeganasan dan malignancy atau keganasan
di ekstoserviks atau leher rahim bagian luar, dan infeksi dalam endoserviks atau
leher rahim bagian dalam endometrium. Skrining secara teratur dapat
mencegah sebagian besar kasus kanker serviks. Tes pap dapat
mendeteksi perubahan awal sel leher rahim (displasia) sebelum berubah
menjadi kanker. Pap Smear juga dapat mendeteksi sebagian besar kanker
serviks pada tahap awal.
b. Fine
Needle Aspiration–Biopsy (FNA-B) /Aspirasi Jarum Halus(AJH)
Fine Needle Aspirasi Biopsi (FNAB)
atau aspirasi jarum halus adalah pemeriksaan langsung pada benjolan penderita
tumor menggunakan jarum kecil, mulai ukuran 23 sampai dengan 27 tergantung pada
ukuran, lokasi serta sifat tumor. Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) adalah
untuk menunjang penegakan diagnosis dari massa yang dapat dipalpasi, yang
diduga merupakan sebuah neoplasma, reaksi infeksi, proses keganasan, lesi
kistik, atau limfadenopati. FNAB sering dilakukan untuk menganalisis benjolan
pada leher, benjolan pada payudara, kelenjar getah bening, kelenjar saliva, dan
massa jaringan ikat yang letaknya superfisial dan dapat dipalpasi, serta pada
organ solid lain seperti hepar dan ginjal.
c. Core
Biopsy
Core needle biopsy (CNB) adalah prosedur pengambilan
sampel dari jaringan tumor menggunakan hollow core needle yang berukuran antara
11-16 gauge. CNB bertujuan untuk mengumpulkan sampel sel dari sebuah tumor
sehingga bisa diperiksa di bawah mikroskop. Sensitivitas dari CNB adalah 92%,
dengan spesifisitas sebesar 100%. Core biopsy menggunakan jarum ukuran 14-G,
lebih dari 90% akurat untuk membedakan tumor ganas dan jinak. Core needle biopsy
biasa dilakukan lebih dulu sebagai modalitas biopsi. Open biopsy kemudian
dilakukan jika diagnosis patologi meragukan atau tidak berkorelasi dengan
dengan klinis dan radiolgis pasien. Biopsi tulang dengan CNB harus dilakukan
dengan panduan CT atau flouroskopi dan multicore.
Sitologik adalah
pemeriksaan yang sampelnya dari cairan tubuh manusia yang kemudian diproses,
yaitu dilakukan fiksasi dan pemberian pigmen kemudian dilakukan pembacaan
dengan mikroskop.
Sediaan yang baik
adalah suatu sediaan yang mampu menggambarkan kondisi sel atau jaringan
layaknya ketika sel atau jaringan itu masih di dalam tubuh. Untuk menghindari
atau memperkecil kerusakan sel dan jaringan ketika terlepas dari tubuh maka
perlu dilakukan suatu tindakan yang membuatnya tidak berubah. Tindakan tersebut
disebut dengan “fiksasi”.
Fiksasi pada sediaan
sitologik terbagi menjadi beberapa bagian yaitu fiksasi kering, fiksasi lembab
dan fiksasi basah. Pada jenis fiksasi basah, sediaan sitologik harus direndam
dalam larutan fiksasi terpilih segera setelah pengambilan specimen sitology
masih dalam kondisi yang lembab. Fiksasi specimen sitology yang dilakukan
dengan segera dilakukan guna mencegah pengeringan dan perubahan bentuk sel
akibat faktor luar.
Fiksasi dasar untuk
pemeriksaan Sitologi berdasar pewarnaan:
a. Pewarnaan
Papanicolaou
Preparat apus difiksasi langsung ke alcohol 95% tanpa menunggu kering. Untuk Pap smear dan FNAB minimal 15 menit, sedangkan untuk apusan cairan minimal 1 jam.
b. Pewarnaan
Giemsa
Preparat
apus harus benar-benar kering. Kemudian difiksasi minimal 5 menit.
DAFTAR
PUSTAKA
Gusti dkk. 2014.
“Laporan Praktikum Sitohistoteknologi”. Denpasar:
RSUP SANGLAH. https://id.scribd.com/doc/265608320/PRAKTIKUM-SITOHISTOTEKNOLOGI
Erick Khristian
dan Inderiati Dewi. 2017. “Sitohistoteknologi”.
Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-content/uploads/2017/11/Sitohistoteknologi-SC.pdf&ved=2ahUKEwjy-p3ozMDtAhVIWysKHb8GB14QFjAAegQIARAB&usg=AOvVaw1ITMKhEIprsMf83M2Wd6_a
Fatimah, Fetty. 2017. “Pemeriksaan Sitologi”. Gorontalo:
Administrator Blogger. http://rstn.boalemokab.go.id/berita-136-pemeriksaan-sitologi.html#:~:text=Didalam%20pelayanan%20pemeriksaan%20laboratorium%20Patologi,adalah%20tindakan%20medik%20untuk%20mengambil
Indrawati, Ari. 2017. “Teknik
Pembuatn dan Evaluasi Preparat Histologi dengan Pewarnaan Hematoksilin Eosin di
Laboratorium Histologi dan Biologi Sel Fakultas Kedokteran UGM dan National
Laboratory Animal Center (NLAC) Mahidol University”. Yogyakarta:
Universitas Gajah Mada. https://www.slideshare.net/mobile/ariindrawati2/teknik-pembuatan-preparat-histologi-dengan-pewarnaan-hematoksilin-eosin
Sevima. 2016. “Laboratorium Sitohistoteknologi”. Denpasar: Jurusan Teknologi Laboratorium Medis. http://www.poltekkes-denpasar.ac.id/analiskesehatan/fasilitas/laboratorium/laboratorium-kimia/
Ilmunya bermanfaat sekali 👍👍
BalasHapus👍
BalasHapusGood
BalasHapusMantul ah
BalasHapusMantap👍👍
BalasHapus👍👍
BalasHapussertakan gambar biar makin bagus👌👍👍
BalasHapusSangat bagus👍👍
BalasHapusBagus sekali☺️
BalasHapusBagus sekali☺️
BalasHapusSangat bermanfaat, akan lebih baik jika ditambahkan gambar
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusTerima kasih atas masukkannya
Hapus👍👍👍
BalasHapus👍👍👍
BalasHapusMantap, sukses terus yah😇🙏
BalasHapusSya tunggu blogg selanjutnya yahh
BalasHapusTrimakasih.
BalasHapusPenjelasan nya sangat jelas.
Terima kasih. Sangat bermanfaat kwn
BalasHapusterimah kasih banyak sangat bermanfaat kawan
BalasHapus👏👏👍
BalasHapus💞👍👍
BalasHapus👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
BalasHapus